LATAR BELAKANG ADANYA PKLH
Yang
menjadi latar belakang mengapa terdapat PKLH adalah adanya masalah kependudukan
dan lingkungan hidup dimana dua hal tersebut dapat dibedakan tetapi tidak dapat
dipisahkan. Hal ini disebabkan mempunyai keterkaitan yang erat dan saling
berhubungan.
Tujuan
dari PKLH sendiri sebernarnya lebih mengacu terhadap pengertian dari PKLH yaitu
suatu pendidikan untuk membentuk dan membina anak didik agar memiliki
pengertian, kesadaran, sikap dan tingkah laku yang rasional dan
bertanggungjawab tentang pengaruh pertumbuhan penduduk dan kondisi lingkungan
hidup serta pengaruhnya terhadap aspek-aspek kehidupan individu, keluarga,
masyarakat, bangsa, dan dunia.
Dan
tujuan PKLH untuk mahasiswa di perguruan tinggi adalah, sebagai berikut :
1)
Agar mahasiswa mengerti dan memahami sekaligus memiliki kesadaran mengenai
faktor-faktor penyebab perkembangan penduduk yang cepat serta interaksi yang
erat antara perkembangan penduduk dengan program pembangunan untuk menaikkan
taraf hidup rakyat.
2)
Agar mahasiswa memiliki kesadaran akan sebab akibat dari besar kecilnya
keluarga terhadap situasi kehidupan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.
3)
Agar mahasiswa memiliki pengetahuan, sikap dan perilaku yang rasional dan
bertanggung jawab dalam menghadapi masalah kependudukan dan lingkungan, baik
dalam lingkungan keluarga, masyarakat, kawasan lokal, nasional, maupun global.
Agar
mahasiswa lebih kritis menanggapi masalah kependudukan yang terjadi.
4)
Agar mahasiswa dapat langung ikut andil dalam penyelesaian masalah-masalah
kependudukan.
5)
Agar mahasiswa dapat sebagai pemikir dan pelopor pembaharuan yang rasional yang
tidak terpisah dari masyarakat sekitar.
Buku
Pendidikan Kependudukan Dan Lingkungan Hidup ( UPT MKU, UNY :2002 )
Selain
itu, PKLH berfungsi sebagai sarana:
Maksud
dari diagram di atas adalah PKLH sebagai sarana:
*
Ajang pendidikan ― mampu menjadi ajang pendidikan dalam upaya menuju kehidupan
berkelanjutan di bumi.
*
Pengamal dan pengembang IPTEK ― mengembangkan IPTEK yang ramah lingkungan dan
hemat sumber daya alam.
*
Pengamalan etika dan moralitas ― mampu menerima dan menjalankan etika dan
moralitas insan pembangunan yang berkelanjutan.
KEPENDUDUK
Penduduk
atau warga suatu negara atau daerah bisa didefinisikan menjadi dua:
• Orang yang tinggal di daerah tersebut
• Orang yang secara hukum berhak
tinggal di daerah tersebut. Dengan kata lain orang yang mempunyai surat resmi
untuk tinggal di situ. Misalkan bukti kewarganegaraan, tetapi memilih tinggal
di daerah lain.
Dalam
sosiologi, penduduk adalah kumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan
ruang tertentu. Masalah-masalah kependudukan dipelajari dalam ilmu Demografi.
Berbagai aspek perilaku menusia dipelajari dalam sosiologi, ekonomi, dan
geografi. Demografi banyak digunakan dalam pemasaran, yang berhubungan erat
dengan unit-unit ekonomi, seperti pengecer hingga pelanggan potensial.
Kepadatan
penduduk
Laju
pertumbuhan penduduk lebih tinggi di negara berkembang dibanding dengan negara
maju.
Kepadatan
penduduk dihitung dengan membagi jumlah penduduk dengan luas area dimana mereka
tinggal.
Piramida
penduduk
Distribusi
usia dan jenis kelamin penduduk dalam negara atau wilayah tertentu dapat digambarkan
dengan suatu piramida penduduk. Grafik ini berbentuk segitiga, dimana jumlah
penduduk pada sumbu X, sedang kelompok usia (cohort) pada sumbu Y. Penduduk
lak-laki ditunjukkan pada bagian kiri sumbu vertikal, sedang penduduk perempuan
di bagian kanan.
Piramida
penduduk menggambarkan perkembangan penduduk dalam kurun waktu tertentu. Negara
atau daerah dengan angka kematian bayi yang rendah dan memiliki usia harapan
hidup tinggi, bentuk piramida penduduknya hampir menyerupai kotak, karena
mayoritas penduduknya hidup hingga usia tua. Sebaliknya yang memiliki angka
kematian bayi tinggi dan usia harapan hidup rendah, piramida penduduknya
berbentuk menyerupai genta (lebar di tengah), yang menggambarkan tingginya
angka kematian bayi dan tingginya risiko kematian.
Pengendalian
penduduk adalah kegiatan membatasi pertumbuhan penduduk, umumnya dengan
mengurangi jumlah kelahiran. Dokumen dari Yunani Kuno telah membuktikan adanya
upaya pengendalian jumlah penduduk sejak zaman dahulu kala. Salah satu contoh
pengendalian penduduk yang dipaksakan terjadi di Republik Rakyat Cina yang
terkenal dengan kebijakannya 'satu anak cukup'; kebijakan ini diduga banyak
menyebabkan terjadinya aksi pembunuhan bayi, pengguguran kandungan yang
dipaksakan, serta sterilisasi wajib.
Indonesia
juga menerapkan pengendalian penduduk, yang dikenal dengan program Keluarga
Berencana (KB), meski program ini cenderung bersifat persuasif ketimbang
dipaksakan. Program ini dinilai berhasil menekan tingkat pertumbuhan penduduk
Indonesia.
Penurunan
jumlah penduduk
Berkurangnya
jumlah penduduk menyebabkan turunnya jumlah populasi pada sebuah daerah. Hal
ini disebabkan oleh perpindahan daerah kesuburan atau oleh emigrasi
besar-besaran. Juga oleh penyakit, kelaparan maupun perang. Namun seringkali
oleh gabungan faktor-faktor tersebut. Di masa lampau penurunan jumlah penduduk
disebabkan terutama sekali oleh penyakit. Pada tahun-tahun belakangan ini
populasi penduduk Rusia dan tujuh belas bekas negara komunis lainnya mulai
menurun (1995-2005). Kasus Black Death di Eropa atau datangnya
penyakit-penyakit dari dunia lama ke Amerika merupakan faktor penyebab turunnya
jumlah penduduk.
Transfer
penduduk
Transfer
penduduk adalah istilah untuk kebijakan negara yang mewajibkan perpindahan
sekelompok penduduk pindah dari kawasan tertentu, terutama dengan alasan
etnisitas atau agama. Kebijakan transmigrasi oleh pemerintah Indonesia selama
orde baru bisa dikategorikan transfer penduduk. Perpindahan penduduk lainnya
dapat pula karena imigrasi, seperti imigrasi dari Eropa ke koloni-koloni Eropa
di Amerika, Afrika, Australia, dan tempat-tempat lainnya.
Pengukuran Kependudukan
Sensus
Penduduk
Sensus
penduduk adalah proses keseluruhan dari pengumpulan, pengolahan, penyajian,
yang menyangkut ciri ciri demografi, sosial ekonomi, dan lingkungan hidup.
Karakter
pelaksanaan sensus
1.
1. Bersifat Bersifat Individual, Individual, yg yg berarti berarti informasi
informasi data data dikumpulkan dikumpulkan dari dari individu individu baik
baik sgb sgb anggota anggota rumah rumah tangga tangga ataupun ataupun anggota
anggota masyarakat
2.
2. Bersifat Bersifat Universal, Universal, pencacahan pencacahan menyeluruh
3.
3. Pencacahan Pencacahan diselenggarakan diselenggarakan serentak
4.
4. Sensus Sensus dilaksanakan dilaksanakan secara secara periodik periodik pd
pd tiap tiap tahun tahun yg yg berakhiran berakhiran angka angka kosong kosong
(0).
Natalitas
(angka kelahiran) adalah jumlah kelahiran hidup setiap 1000 penduduk dalam
waktu satu tahun.
Faktor-faktor
Pronatalitas (Pendorong natalitas)
kawin
pada usia muda
anggapan
banyak anak, banyak rezeki
tingginya
tingkat pergaulan bebas
anggapan
anak laki-laki lebih berharga
Faktor-faktor
Antinatalitas (Penghambat natalitas)
menunda
usia perkawinan
adanya
ketentuan batas usia menikah
program
Keluarga Berencana dari pemerintah
pembatasan
tunjangan anak bagi PNS
Mortalitas
(angka kematian) adalah jumlah kematian yang terjadi setiap 1000 penduduk dalam
waktu satu tahun.
Faktor-faktor
Promortalitas (Pendorong mortalitas)
adanya
bencana alam
adanya
peperangan
sanitasi
lingkungan yang buruk
kecelakaan
lalu lintas
tindakan
bunuh diri
Faktor-faktor
antimortalitas (Penghambat kematian)
sanitasi
lingkungan yang sudah baik
perbaikan
gizi masyarakat
tingkat
kesejahteraan masyarakat tinggi
keberhasilan
ajaran agama untuk melarang bunuh diri
PERPINDAHAN
PENDUDUK
a.
Migrasi internasional, yaitu perpindahan penduduk yang dilakukan antarnegara.
Migrasi
internasional dibedakan menjadi imigrasi dan emigrasi.
1)
Imigrasi, yaitu perpindahan penduduk dari suatu negara lain ke dalam suatu
negara. Contoh orang India masuk ke Indonesia.
2)
Emigrasi, yaitu perpindahan penduduk dari suatu negara menuju ke negara lain.
Contoh orang Indonesia pergi bekerja ke luar negeri, misalnya para Tenaga Kerja
Indonesia yang bekerja di Malaysia.
b.
Migrasi nasional, yaitu proses perpindahan penduduk di dalam satu negara.
Migrasi
nasional ini terdiri dari beberapa jenis, yaitu:
1)
Migrasi penduduk sementara atau migrasi sirkuler, terdiri dari:
a)
penglaju, yaitu perpindahan penduduk dari tempat tinggal asal menuju ke tempat
tujuan yang dilakukan setiap hari pulang pergi untuk melakukan suatu pekerjaan.
b)
perpindahan penduduk musiman, maksudnya perpindahan yang dilakukan hanya
bersifat sementara pada musim-musim tertentu.
2)
Migrasi penduduk menetap meliputi transmigrasi dan urbanisasi.
Transmigrasi,
yaitu perpindahan dari salah satu wilayah untuk menetap di wilayah lain dalam
wilayah negara.
Urbanisasi
adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota atau dari kota kecil ke kota
besar.
(1)
Faktor–faktor yang mendorong terjadinya urbanisasi, sebagai berikut.
(a)
Lahan pertanian semakin sempit.
(b)
Sulitnya pekerjaan di luar sektor pertanian.
(c)
Banyaknya pengangguran di pedesaan.
(d)
Fasilitas kehidupan sulit didapat.
(e)
Kurangnya fasilitas hiburan.
(2)
Faktor penarik di kota, sebagai berikut.
(a)
Lapangan pekerjaan lebih banyak.
(b)
Banyak menyerap tenaga kerja.
(c)
Banyak hiburan.
(d)
Banyak fasilitas kehidupan.
Migrasi,
baik migrasi internasional maupun nasional tentu ada pengaruhnya. Sebagai
contoh untuk transmigrasi, urbanisasi, atau emigrasi sebagai TKI, dampak
negatifnya adalah:
•
di perdesaan tenaga di sektor pertanian berkurang,
•
banyak lahan tidak tergarap,
•
produktivitas pertanian dapat menurun, dan
•
tenaga terdidik sebagai tenaga penggerak pembangunan berkurang.
Namun
migrasi juga ada akibat positifnya, yaitu:
•
meningkatkan pendapatan penduduk desa,
•
mengurangi kepadatan penduduk,
•
menularkan pengalaman kota, dan
•
masyarakat desa ingin maju.
Dalam
hal urbanisasi, dampak negatif bagi wilayah perkotaan, antara lain:
•
pertambahan penduduk,
•
kepadatan penduduk,
•
peningkatan tenaga kasar,
•
timbul daerah kumuh,
•
tuna wisma,
•
meningkatnya kejahatan,
•
pengangguran,
•
kemacetan lalu-lintas, dan
•
semakin menciptakan rasa individual yang tinggi.
Dampak
positif migrasi di perkotaan, antara lain:
•
Murah tenaga kerja
•
Banyak tersedia tenaga kerja kasar
Ekosistem
adalah
suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan
antara makhluk hidup dengan lingkungannya.[1] Ekosistem bisa dikatakan juga
suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur
lingkungan hidup yang saling memengaruhi.[1]
Ekosistem
merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi
timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi
menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi
antara organisme dan anorganisme.[1] Matahari sebagai sumber dari semua energi
yang ada.[1]
Dalam
ekosistem, organisme dalam komunitas berkembang bersama-sama dengan lingkungan
fisik sebagai suatu sistem.[2] Organisme akan beradaptasi dengan lingkungan
fisik, sebaliknya organisme juga memengaruhi lingkungan fisik untuk keperluan
hidup.[2] Pengertian ini didasarkan pada Hipotesis Gaia, yaitu:
"organisme, khususnya mikroorganisme, bersama-sama dengan lingkungan fisik
menghasilkan suatu sistem kontrol yang menjaga keadaan di bumi cocok untuk
kehidupan".[2] Hal ini mengarah pada kenyataan bahwa kandungan kimia
atmosfer dan bumi sangat terkendali dan sangat berbeda dengan planet lain dalam
tata surya.[2]
Kehadiran,
kelimpahan dan penyebaran suatu spesies dalam ekosistem ditentukan oleh tingkat
ketersediaan sumber daya serta kondisi faktor kimiawi dan fisis yang harus
berada dalam kisaran yang dapat ditoleransi oleh spesies tersebut, inilah yang
disebut dengan hukum toleransi.[3] Misalnya: Panda memiliki toleransi yang luas
terhadap suhu, namun memiliki toleransi yang sempit terhadap makanannya, yaitu
bambu.[1] Dengan demikian, panda dapat hidup di ekosistem dengan kondisi apapun
asalkan dalam ekosistem tersebut terdapat bambu sebagai sumber makanannya.[1]
Berbeda dengan makhluk hidup yang lain, manusia dapat memperlebar kisaran
toleransinya karena kemampuannya untuk berpikir, mengembangkan teknologi dan
memanipulasi alam.[2]
Abiotik[sunting
| sunting sumber]
Abiotik
atau komponen tak hidup adalah komponen fisik dan kimia yang merupakan medium
atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup.[4]
Sebagian besar komponen abiotik bervariasi dalam ruang dan waktunya.[2]
Komponen abiotik dapat berupa bahan organik, senyawa anorganik, dan faktor yang
memengaruhi distribusi organisme, yaitu[2]:
Suhu.
Proses biologi dipengaruhi suhu. Mamalia dan unggas membutuhkan energi untuk
meregulasi temperatur dalam tubuhnya.
Air.
Ketersediaan air memengaruhi distribusi organisme. Organisme di gurun
beradaptasi terhadap ketersediaan air di gurun.
Garam.
Konsentrasi garam memengaruhi kesetimbangan air dalam organisme melalui
osmosis. Beberapa organisme terestrial beradaptasi dengan lingkungan dengan
kandungan garam tinggi.
Cahaya
matahari. Intensitas dan kualitas cahaya memengaruhi proses fotosintesis. Air
dapat menyerap cahaya sehingga pada lingkungan air, fotosintesis terjadi di
sekitar permukaan yang terjangkau cahaya matahari. Di gurun, intensitas cahaya
yang besar membuat peningkatan suhu sehingga hewan dan tumbuhan tertekan.
Tanah
dan batu. Beberapa karakteristik tanah yang meliputi struktur fisik, pH, dan
komposisi mineral membatasi penyebaran organisme berdasarkan pada kandungan
sumber makanannya di tanah.
Iklim.
Iklim adalah kondisi cuaca dalam jangka waktu lama dalam suatu area. Iklim
makro meliputi iklim global, regional dan lokal. Iklim mikro meliputi iklim
dalam suatu daerah yang dihuni komunitas tertentu.
Biotik[sunting
| sunting sumber]
Biotik
adalah istilah yang biasanya digunakan untuk menyebut sesuatu yang hidup
(organisme). Komponen biotik adalah suatu komponen yang menyusun suatu
ekosistem selain komponen abiotik (tidak bernyawa). Berdasarkan peran dan
fungsinya, makhluk hidup dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
Heterotrof
/ Konsumen[sunting | sunting sumber]
Komponen
heterotrof terdiri dari organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik yang
disediakan oleh organisme lain sebagai makanannya .[4] Komponen heterotrof
disebut juga konsumen makro (fagotrof) karena makanan yang dimakan berukuran
lebih kecil.[4] Yang tergolong heterotrof adalah manusia, hewan, jamur, dan
mikroba.[4]
Pengurai
/ dekomposer[sunting | sunting sumber]
Pengurai
atau dekomposer adalah organisme yang menguraikan bahan organik yang berasal
dari organisme mati.[4] Pengurai disebut juga konsumen makro (sapotrof) karena
makanan yang dimakan berukuran lebih besar.[1] Organisme pengurai menyerap
sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang sederhana
yang dapat digunakan kembali oleh produsen.[4] Yang tergolong pengurai adalah
bakteri dan jamur.[4] Ada pula pengurai yang disebut detritivor, yaitu hewan
pengurai yang memakan sisa-sisa bahan organik, contohnya adalah kutu kayu.[4]
Tipe dekomposisi ada tiga, yaitu[2]:
aerobik
: oksigen adalah penerima elektron / oksidan
anaerobik
: oksigen tidak terlibat. Bahan organik sebagai penerima elektron /oksidan
fermentasi
: anaerobik namun bahan organik yang teroksidasi juga sebagai penerima
elektron. komponen tersebut berada pada suatu tempat dan berinteraksi membentuk
suatu kesatuan ekosistem yang teratur[4]. Misalnya, pada suatu ekosistem
akuarium, ekosistem ini terdiri dari ikan sebagai komponen heterotrof, tumbuhan
air sebagai komponen autotrof, plankton yang terapung di air sebagai komponen
pengurai, sedangkan yang termasuk komponen abiotik adalah air, pasir, batu,
mineral dan oksigen yang terlarut dalam air.[4]
Ketergantungan[sunting
| sunting sumber]
Rantai
makanan
Ketergantungan
pada ekosistem dapat terjadi antar komponen biotik atau antara komponen biotik
dan abiotik[2].
Antar
komponen biotik[sunting | sunting sumber]
Ketergantungan
antar komponen biotik dapat terjadi melalui[2]:
Rantai
makanan, yaitu perpindahan materi dan energi melalui proses makan dan dimakan
dengan urutan tertentu. Tiap tingkat dari rantai makanan disebut tingkat trofi
atau taraf trofi. Karena organisme pertama yang mampu menghasilkan zat makanan
adalah tumbuhan maka tingkat trofi pertama selalu diduduki tumbuhan hijau
sebagai produsen. Tingkat selanjutnya adalah tingkat trofi kedua, terdiri atas
hewan pemakan tumbuhan yang biasa disebut konsumen primer. Hewan pemakan
konsumen primer merupakan tingkat trofi ketiga, terdiri atas hewan-hewan
karnivora. Setiap pertukaran energi dari satu tingkat trofi ke tingkat trofi
lainnya, sebagian energi akan hilang.[2]
Jaring-
jaring makanan, yaitu rantai-rantai makanan yang saling berhubungan satu sama
lain sedemikian rupa sehingga membentuk seperi jaring-jaring. Jaring-jaring
makanan terjadi karena setiap jenis makhluk hidup tidak hanya memakan satu
jenis makhluk hidup lainnya.
Antar
komponen biotik dan abiotik[sunting | sunting sumber]
Ketergantungan
antara komponen biotik dan abiotik dapat terjadi melalui siklus materi,
seperti[2]:
siklus
karbon
siklus
air
siklus
nitrogen
siklus
sulfur
Siklus
ini berfungsi untuk mencegah suatu bentuk materi menumpuk pada suatu tempat.[2]
Ulah manusia telah membuat suatu sistem yang awalnya siklik menjadi nonsiklik,
manusia cenderung mengganggu keseimbangan lingkungan.[2]
Tipe-tipe
Ekosistem[sunting | sunting sumber]
Secara
umum ada tiga tipe ekosistem, yaitu ekositem air, ekosisten darat, dan
ekosistem buatan.[5]
Akuatik
(air)[sunting | sunting sumber]
Ekosistem
sungai
Ekosistem
air tawar.
Ciri-ciri
ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak menyolok, penetrasi cahaya
kurang, dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca.[5] Macam tumbuhan yang terbanyak
adalah jenis ganggang, sedangkan lainnya tumbuhan biji.[5] Hampir semua filum
hewan terdapat dalam air tawar. Organisme yang hidup di air tawar pada umumnya
telah beradaptasi.[5]
Ekosistem
air laut.
Habitat
laut (oseanik) ditandai oleh salinitas (kadar garam) yang tinggi dengan ion CI-
mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya tinggi dan
penguapan besar.[5] Di daerah tropik, suhu laut sekitar 25 °C. Perbedaan suhu
bagian atas dan bawah tinggi, sehingga terdapat batas antara lapisan air yang
panas di bagian atas dengan air yang dingin di bagian bawah yang disebut daerah
termoklin.[5]
Ekosistem
estuari.
Estuari
(muara) merupakan tempat bersatunya sungai dengan laut.[5] Estuari sering
dipagari oleh lempengan lumpur intertidal yang luas atau rawa garam. Ekosistem
estuari memiliki produktivitas yang tinggi dan kaya akan nutrisi[1]. Komunitas
tumbuhan yang hidup di estuari antara lain rumput rawa garam, ganggang, dan
fitoplankton.[5] Komunitas hewannya antara lain berbagai cacing, kerang,
kepiting, dan ikan.[5]
Ekosistem
pantai.
Dinamakan
demikian karena yang paling banyak tumbuh di gundukan pasir adalah tumbuhan
Ipomoea pes caprae yang tahan terhadap hempasan gelombang dan angin.[5]
Tumbuhan yang hidup di ekosistem ini menjalar dan berdaun tebal.[5]
Ekosistem
sungai.
Sungai
adalah suatu badan air yang mengalir ke satu arah.[5] Air sungai dingin dan
jernih serta mengandung sedikit sedimen dan makanan. Aliran air dan gelombang
secara konstan memberikan oksigen pada air[5]. Suhu air bervariasi sesuai
dengan ketinggian dan garis lintang.[5] Ekosistem sungai dihuni oleh hewan
seperti ikan kucing, gurame, kura-kura, ular, buaya, dan lumba-lumba.[5]
Ekosistem
terumbu karang.
Ekosistem
ini terdiri dari coral yang berada dekat pantai.[1] Efisiensi ekosistem ini
sangat tinggi.[1] Hewan-hewan yang hidup di karang memakan organisme
mikroskopis dan sisa organik lain.[4] Berbagai invertebrata, mikro organisme,
dan ikan, hidup di antara karang dan ganggang.[4] Herbivora seperti siput,
landak laut, ikan, menjadi mangsa bagi gurita, bintang laut, dan ikan
karnivora.[4] Kehadiran terumbu karang di dekat pantai membuat pantai memiliki
pasir putih.[1]
Ekosistem
laut dalam.
Kedalamannya
lebih dari 6.000 m.[4] Biasanya terdapat lele laut dan ikan laut yang dapat
mengeluarkan cahaya.[4] Sebagai produsen terdapat bakteri yang bersimbiosis
dengan karang tertentu.[4]
Ekosistem
lamun.
Lamun
atau seagrass adalah satu‑satunya kelompok tumbuh-tumbuhan
berbunga yang hidup di lingkungan laut[6]. Tumbuh‑tumbuhan ini hidup di habitat
perairan pantai yang dangkal.[6] Seperti halnya rumput di darat, mereka
mempunyai tunas berdaun yang tegak dan tangkai‑tangkai yang merayap yang efektif
untuk berbiak.[6] Berbeda dengan tumbuh‑tumbuhan laut lainnya (alga dan
rumput laut), lamun berbunga, berbuah dan menghasilkan biji. Mereka juga
mempunyai akar dan sistem internal untuk mengangkut gas dan zat‑zat
hara.[6] Sebagai sumber daya hayati, lamun banyak dimanfaatkan untuk berbagai
keperluan.[6]
Terestrial
(darat)[sunting | sunting sumber]
Ekosistem
hutan hujan tropis memiliki produktivitas tinggi.
Ekosistem
taiga merupakan hutan pinus dengan ciri iklim musim dingin yang panjang.
Ekosistem
tundra didominasi oleh vegetasi perdu.
Penentuan
zona dalam ekosistem terestrial ditentukan oleh temperatur dan curah hujan.[2]
Ekosistem terestrial dapat dikontrol oleh iklim dan gangguan.[2] Iklim sangat
penting untuk menentukan mengapa suatu ekosistem terestrial berada pada suatu
tempat tertentu.[2] Pola ekosistem dapat berubah akibat gangguan seperti petir,
kebakaran, atau aktivitas manusia.[2]
Hutan
hujan tropis.
Hutan
hujan tropis terdapat di daerah tropik dan subtropik.[5] Ciri-cirinya adalah
curah hujan 200-225 cm per tahun.[5] Spesies pepohonan relatif banyak, jenisnya
berbeda antara satu dengan yang lainnya tergantung letak geografisnya.[5]
Tinggi pohon utama antara 20-40 m, cabang-cabang pohon tinggi dan berdaun lebat
hingga membentuk tudung (kanopi).[5] Dalam hutan basah terjadi perubahan iklim
mikro, yaitu iklim yang langsung terdapat di sekitar organisme.[5] Daerah
tudung cukup mendapat sinar matahari, variasi suhu dan kelembapan tinggi, suhu
sepanjang hari sekitar 25 °C.[5] Dalam hutan hujan tropis sering terdapat tumbuhan
khas, yaitu liana (rotan) dan anggrek sebagai epifit.[5] Hewannya antara lain,
kera, burung, badak, babi hutan, harimau, dan burung hantu.[5]
Sabana.
Sabana
dari daerah tropik terdapat di wilayah dengan curah hujan 40 – 60 inci per
tahun, tetapi temepratur dan kelembaban masih tergantung musim.[6] Sabana yang
terluas di dunia terdapat di Afrika; namun di Australia juga terdapat sabana
yang luas.[6] Hewan yang hidup di sabana antara lain serangga dan mamalia
seperti zebra, singa, dan hyena.[1]
Padang
rumput.
Padang
rumput terdapat di daerah yang terbentang dari daerah tropik ke subtropik.[4]
Ciri-ciri padang rumput adalah curah hujan kurang lebih 25-30 cm per tahun,
hujan turun tidak teratur, porositas (peresapan air) tinggi, dan drainase
(aliran air) cepat.[4] Tumbuhan yang ada terdiri atas tumbuhan terna (herbs)
dan rumput yang keduanya tergantung pada kelembapan.[4] Hewannya antara lain:
bison, zebra, singa, anjing liar, serigala, gajah, jerapah, kangguru, serangga,
tikus dan ular.[4]
Gurun.
Gurun
terdapat di daerah tropik yang berbatasan dengan padang rumput.[6] Ciri-ciri
ekosistem gurun adalah gersang dan curah hujan rendah (25 cm/tahun).[6]
Perbedaan suhu antara siang dan malam sangat besar.[6] Tumbuhan semusim yang
terdapat di gurun berukuran kecil[6]. Selain itu, di gurun dijumpai pula
tumbuhan menahun berdaun seperti duri contohnya kaktus, atau tak berdaun dan
memiliki akar panjang serta mempunyai jaringan untuk menyimpan air.[6] Hewan
yang hidup di gurun antara lain rodentia, semut, ular, kadal, katak,
kalajengking, dan beberapa hewan nokturnal lain.[6]
Hutan
gugur.
Hutan
gugur terdapat di daerah beriklim sedang yang memiliki empat musim,
ciri-cirinya adalah curah hujan merata sepanjang tahun.[4] Jenis pohon sedikit
(10 s/d 20) dan tidak terlalu rapat.[4] Hewan yang terdapat di hutam gugur
antara lain rusa, beruang, rubah, bajing, burung pelatuk, dan rakun (sebangsa
luwak).[4]
Taiga
Taiga
terdapat di belahan bumi sebelah utara dan di pegunungan daerah tropik,
ciri-cirinya adalah suhu di musim dingin rendah.[5] Biasanya taiga merupakan
hutan yang tersusun atas satu spesies seperti konifer, pinus, dan
sejenisnya.[5] Semak dan tumbuhan basah sedikit sekali, sedangkan hewannya
antara lain moose, beruang hitam, ajag, dan burung-burung yang bermigrasi ke
selatan pada musim gugur.[5]
Tundra
Tundra
terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub utara dan
terdapat di puncak-puncak gunung tinggi.[5] Pertumbuhan tanaman di daerah ini
hanya 60 hari.[5] Contoh tumbuhan yang dominan adalah sphagnum, liken, tumbuhan
biji semusim, tumbuhan perdu, dan rumput alang-alang.[5] Pada umumnya,
tumbuhannya mampu beradaptasi dengan keadaan yang dingin.[5]
Karst
(batu gamping /gua).
Karst
berawal dari nama kawasan batu gamping di wilayah Yugoslavia.[6] Kawasan karst
di Indonesia rata-rata mempunyai ciri-ciri yang hampir sama yaitu, tanahnya
kurang subur untuk pertanian, sensitif terhadap erosi, mudah longsor, bersifat
rentan dengan pori-pori aerasi yang rendah, gaya permeabilitas yang lamban dan
didominasi oleh pori-pori mikro.[6] Ekosistem karst mengalami keunikan
tersendiri, dengan keragaman aspek biotis yang tidak dijumpai di ekosistem
lain.[6]
Buatan[sunting
| sunting sumber]
Sawah
merupakan salah satu contoh ekosistem buatan
Ekosistem
buatan adalah ekosistem yang diciptakan manusia untuk memenuhi kebutuhannya.[5]
Ekosistem buatan mendapatkan subsidi energi dari luar, tanaman atau hewan
peliharaan didominasi pengaruh manusia, dan memiliki keanekaragaman rendah.[1]
Contoh ekosistem buatan adalah[5]:
bendungan
hutan
tanaman produksi seperti jati dan pinus
agroekosistem
berupa sawah tadah hujan
sawah
irigasi
perkebunan
sawit
ekosistem
pemukiman seperti kota dan desa
ekosistem
ruang angkasa.[1]
Ekosistem
kota memiliki metabolisme tinggi sehingga butuh energi yang banyak.[2]
Kebutuhan materi juga tinggi dan tergantung dari luar, serta memiliki
pengeluaran yang eksesif seperti polusi dan panas.[2]
Ekosistem
ruang angkasa bukan merupakan suatu sistem tertutup yang dapat memenuhi sendiri
kebutuhannya tanpa tergantung input dari luar.[1] Semua ekosistem dan kehidupan
selalu bergantung pada bumi.[1]
Sumber:
Super Trik Geografi SMA
Posted
by fuat cepat at 9:41 AM
SUMBER DAYA ALAM
Pengertian
Sumber Daya dan Klasifikasinya
Sumber
daya alam adalah sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan dan
kebutuhan hidup manusia agar hidup lebih sejahtera yang ada di sekitar alam
lingkungan hidup kita. Sumber daya alam bisa terdapat di mana saja seperti di
dalam tanah, air, permukaan tanah, udara, dan lain sebagainya. Contoh dasar
sumber daya alam seperti barang tambang, sinar matahari, tumbuhan, hewan dan
banyak lagi lainnya.
matahari,
tumbuhan, hewan dan banyak lagi lainnya.
A.
Sumber daya alam berdasarkan jenis :
-
sumber daya alam hayati / biotik
adalah
sumber daya alam yang berasal dari makhluk hidup.
contoh
: tumbuhan, hewan, mikro organisme, dan lain-lain
-
sumber daya alam non hayati / abiotik
adalah
sumber daya alam yang berasal dari benda mati.
contoh
: bahan tambang, air, udara, batuan, dan lain-lain
B.
Sumber daya alam berdasarkan sifat pembaharuan :
-
sumber daya alam yang dapat diperbaharui / renewable
yaitu
sumber daya alam yang dapat digunakan berulang-ulang kali dan dapat
dilestarikan.
contoh
: air, tumbuh-tumbuhan, hewan, hasil hutan, dan lain-lain
-
sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui / non renewable
ialah
sumber daya alam yang tidak dapat di daur ulang atau bersifat hanya dapat
digunakan sekali saja atau tidak dapat dilestarikan serta dapat punah.
contoh
: minyak bumi, batubara, timah, gas alam.
-
Sumber daya alam yang tidak terbatas jumlahnya / unlimited
contoh
: sinar matahari, arus air laut, udara, dan lain lain.
C.
Sumber daya alam berdasarkan kegunaan atau penggunaannya
-
sumber daya alam penghasil bahan baku
adalah
sumber daya alam yang dapat digunakan untuk menghasilkan benda atau barang lain
sehingga nilai gunanya akan menjadi lebih tinggi.
contoh
: hasil hutan, barang tambang, hasil pertanian, dan lain-lain
-
sumber daya alam penghasil energi
adalah
sumber daya alam yang dapat menghasilkan atau memproduksi energi demi
kepentingan umat manusia di muka bumi.
misalnya
: ombak, panas bumi, arus air sungai, sinar matahari, minyak bumi, gas bumi,
dan lain sebagainya.
